Puisi | Prosa

Sebelum Pagi Hari

Sebuah puisi oleh Trias Dian Lestari

Bertemu dalam ruangan hitam

Akhirnya rinduku sampai

Kau berjalan mendekat, senyummu menjadi jelas

Terlihat guratan senyum di ujung bibirmu

 

Udara di sekitar hangat membius

Tanpa ada suara di dalamnya, sunyi

Kita hanya tersenyum berhadapan

 

Tanganmu menggenggamku, halus membelai rambutku

Kemudian aku memelukmu perlahan

Mendekap kedua bahumu sepenuhnya

Membayar jutaan detik yang kulewati

Hanya untuk mendambakan berada disini

 

Kita tetap saling memeluk erat

Dalam kurun waktu jutaan detik juga, pikirku

 

Lalu kau melepas pelukanku perlahan

Sembari aku juga melemaskan tangan

Beberapa tetes air mata mengalir melewati rahangku

 

Kau terdiam, tetap tersenyum

Lalu kau mengangguk pelan, aku menyusul kemudian

Kita berdiri pada jarak dimana aku tetap bisa melihat wajahmu

 

Perlahan, ruangan hitam berubah

Warnanya memudar temaram hingga menjadi putih terang

 

….saat itulah kedua mataku terbuka

Kodrat.

Gadis desa berjalan di tengah ladang..
Melirik ke kiri dan ke kanan..
Berhenti, mengamati kumbang..
Tersenyum memetik sekuntum mawar keemasan..

Gadis desa bertemu pemilik ladang..
Seucap tanya terlontar..
“Mengapa kamu tak pulang?”
Ia jawab, “Menunggu waktu menatap bintang..”

Gadis desa mendendang lagu..
Bermandikan cahaya..
Menatap cabang dengan ragu..
Berlari menembus semak di hadapannya..

Gadis desa menggembala domba..
Menggiring semua ke dalam kandang..
Pulang dan menatap keluar jendela..
Tersenyum menatap bintangnya yang cemerlang..

Senja di Pantai Manado


Ketika menyaksikan matahari senja, rasa cintaku pada Sang Transenden…begitu terasa hidup. 
Megah dalam kelembutan-Nya…menyentuh, menyatu hingga ke bagian terdalam dunia batinku.
Horizon yang tak terbatas, seluas Cinta-Nya yang tiada tepi dan ujung. 
Hanya meng-ada. 
Memancarkan cinta…tanpa syarat. 
Meng-ada sehingga aku dapat merasakan sentuhan-Nya yang melampaui keterbatasanku.

‎​Ia tak berkata apa-apa, pun tak memintaku untuk berlari mendekati-Nya. 
Hanya diam dan meng-ada. 
Sebab meng-ada dengann utuh dan otentik adalah PR-ku saat ini. 
Aku menyadari ia menerima dan bersabar pada proses pertumbuhkembanganku yang unik. 

Mengapa aku sering tidak sabar dan tidak menerima diriku sendiri?

Jika cinta-Nya seumpama telur ceplok, mungkin aku baru sanggup mencicip dan mencecap pinggirannya yang kering dan kecoklatan.
Tapi ini pun proses…
Perjalanan yang akan terus bergerak, dinamis, seumur-sepanjang hidup.

Keluar dari Rahim Ibu Kesekian Kalinya

Penuh sesak
ingin bertumbuh di tempat yang lebih besar
sudah habis masa waktu untuk tetap bersemayam di sini
seluruh badan digeliatkan untuk mendorong keluar
Ngos-ngosan melepaskan diri
Tapi, ketika sudah berhasil keluar
Bingung harus berbuat apa
Di sini berbeda dari tempat yang dulu
Yang awalnya tidak nyaman,
Namun lama kelamaan sudah beradaptasi
Sehingga menjadi tempat yang nyaman.
Sangat nyaman.
Tanpa sarang, tanpa rahim ini…
Apa yang harus kulakukan?
Keluar dari rahim ibu (baca: comfort zone)
Kesekian kalinya…
Tetap bingung apa yang harus dilakukan.