Esai

Tuhan Memang Satu, (lagi-lagi) Kita yang…

“Tuhan memang satu, kita yang tak sama…”

Sekali lagi lagu ini terngiang di kepala saya. Kali ini saya tidak sedang berdiskusi atau mengobrol dengan klien. Tidak juga sedang sekedar berbincang dengan teman. Sebaliknya, saya sedang duduk di kamar saya, sendiri.
Sekali lagi pula lagu ini mengingatkan saya akan isu kepercayaan kepada Tuhan, seperti tulisan saya sebelumnya. Dengan Tuhan yang dipercayai ada, masih banyak masalah yang membuat manusia tidak bisa bersama. Hanya karena cara mencapai Tuhan yang berbeda.
Bukan, bukan agama yang saya maksudkan. Cara mencapai Tuhan tidak harus dengan agama. Bahkan agama yang sama saja seringkali menempatkan dua orang manusia di jalan yang berbeda. Oleh karena itu, di sini saya melihat cara orang mencapai Tuhannya, bukan agamanya.
Saya pernah mengalami sendiri berhubungan dengan orang yang berbeda agama. Kami sama-sama percaya Tuhan itu ada, namun dengan cara mencapai Tuhan yang berbeda. Dengan pegangan dan jalan yang berbeda menuju Tuhan, banyak hal yang terpengaruh dan semakin menunjukkan bahwa kami tidak sejalan.
Saya juga pernah mengalami sendiri berhubungan dengan orang yang memiliki agama yang sama dengan saya. Namun agama yang sama pun tidak berarti memiliki jalan yang sama untuk mencapai Tuhan. Saya berjalan di koridor yang santai, perlahan, dan cenderung konservatif. Sedangkan ia berjalan di koridor yang lebih menggebu, lebih berenergi, lebih modern. Tidak, saya bukan mengatakan salah satu dari koridor itu lebih baik dari koridor yang satu. Banyak jalan menuju Roma, bukan? Namun tetap saja, kami berjalan di koridor yang berbeda, dan tidak ada yang mau mengikuti yang lain, untuk berjalan bersama.
Kemudian saya teringat perkataan seorang teman. Kami pernah membahas penting tidaknya mencari pasangan hidup yang seagama. Argumen saya, pasangan hidup haruslah seagama, karena jika tidak, banyak hal yang akan menjadi hambatan. Salah satu contohnya adalah pernikahan, apalagi di negara ini.
Namun argumen teman tersebut juga membuat saya kembali berpikir. Pertanyaan dan perkataannya menyentil saya. Lalu kenapa kalau tidak seagama? Memangnya dalam mencari pasangan hidup, kamu mencari cinta atau agama? Kamu mencari pasangan yang dapat mengerti kamu dan mau berkembang bersama kamu, atau mencari orang yang berjalan bersama di koridor untuk mencapai Tuhan? Karena agama adalah masalah personal. Antara diri kita pribadi dengan Tuhan.
Lalu saya hanya diam, tidak bisa menjawab. Saya tersenyum kecil, dan tetap tidak bisa menjawab. Hingga saat ini. Atau mungkinkah memang pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijawab? Kembali, saya tersenyum.

Kultur Bicara dan Para Pendiam

Saya sadar saya bukan orang yang paling outgoing. Justru sebaliknya, saya hampir-hampir hermitic, kerap menolak dengan sopan ajakan teman untuk keluar rumah, untuk entah kumpul-kumpul, pesta dan lainnya. Saya juga bukan orang yang paling banyak bicara, sebaliknya saya bisa jadi orang yang paling diam di ruangan penuh manusia. Mungkin banyak yang akan bertanya: lho, kalau keluar rumah saja jarang, bicara saja jarang, lalu bagaimana dengan kesempatan saya melihat dunia luar, networking dengan teman baru, mencari pengalaman lain? Eits, tentu saya melakukan itu semua, hanya saja bukan dengan cara yang konvensional (“Halo! Saya Gilang, senang bertemu dengan anda!”)

Tertutup? Pemalu? Menarik diri? (atau yang lebih parah) Egois? Sombong? Wah, tidak terhitung banyaknya label yang diberikan social circle kepada saya, tapi satu label yang paling bisa saya terima adalah introvert. Percayalah, saya bukan alien dari planet lain, hanya introvert (walau memang ekstrem, Introversion saya selalu di batas tertinggi kalau dites berbagai self-report, dari Big Five, 16PF, MBTI ataupun Keirsey Temperament Sorter. Selalu mentok. Pas. Maksimal.)

Seperti yang diutarakan di atas, sejak kecil introversi saya dianggap agak ‘aneh’, saya pun diberi label macam-macam. Padahal, saya sendiri melihat wajar-wajar saja: social skills saya tidak rusak, interaksi saya normal, tidak agoraphobia, bukan juga antisosial yang diam-diam menyimpan dendam pada masyarakat (lalu membunuhi mereka, seperti kasus penembakan di Columbine atau kampus Virginia Tech, eh kok jadi serem), dan yang terpenting: PASTI bukan saya sendiri yang memiliki preferensi untuk menyenangi kesunyian dan waktu untuk berdiam diri. Bias kepada kami para introvert, mungkin sedikit banyak terjadi karena masalah kultur. Kultur kita adalah kultur bicara, kultur ‘makan-tidak-makan-asal-kumpul’, kultur nongkrong, kultur arisan. Masyarakat kita menjunjung tinggi kolektivitas, bukan individualitas. Dari sini kemudian muncul bias terhadap mereka yang punya preferensi lain. Nah, kalau judulnya saja sudah kultur, berarti tidak bisa dilawan dan sedikit banyak harus dihormati. Saya sendiri sesekali mengalah dan meninggalkan preferensi pribadi demi terjaganya hubungan interpersonal atas nama tradisi dan kultur: menghadiri pesta, nongkrong bareng, ikut arisan, reunian dan segala macam social eventslain. Walau kalau disuruh memilih, saya lebih senang keep-in-touchdengan teman/keluarga lewat cara yang lebih personal, lebih tenang dan tidak kolosal nan epik seperti kumpul-kumpul itu.

Bagian yang paling membebani dari menjadi seorang introvert mungkin ini: diam dan tenang kami kemudian diasumsi bermacam-macam oleh orang lain yang tidak mengerti. Diam kami lalu diisi dengan judgment beragam, “dia marah ya? Dia bete ya?“ Tidak. Hanya diam mencari sedikit kesunyian. Masa iya tidak boleh? Dunia itu berisik. Saya percaya kata-kata ini, kalau menurut buku Quiet karya Susan Cain, ekstrovert mendominasi 2/3 penduduk dunia (ataupun kalau bukan individunya, ya pembicaraan mereka), jadilah kebanyakan dari perspektif dan cara pandang yang berseliweran di dunia itu dari para ekstrovert. Standar sosial di kultur kita juga biasanya adalah standar ekstrovert. Standar seperti, kesopanan, misalnya: saya ingat selalu disuruh keluar kamar untuk menyapa dan berbasa-basi ke setiap tamu yang datang ke rumah oleh orangtua saya. Atas nama kesopanan. Sekalipun si tamu tidak ada kepentingan, bahkan kenal juga mungkin tidak dengan saya. Nah, ini bagian sulitnya, ketika preferensi pribadi mesti dibenturkan dengan norma yang lebih tinggi dan mengatur. Dan kultur kita (serta kultur timur pada umumnya) punya luar biasa banyak detail soal interaksi sosial. Segalanya diatur, dan kita diekspektasi untuk mengikuti standar tersebut (apalagi saya tumbuh di kultur Jawa yang kental, yang segalanya mesti ‘orang lain dulu, diri sendiri belakangan’). Padahal tidak bisa disamaratakan semua orang punya ruang gerak pribadi yang terbuka: yang setiap saat, setiap waktu harus mau dimasuki orang lain. Beberapa ada yang personal space-nya lebih terjaga, yang mesti dengan persiapan jika bertemu orang: tidak bisa spontan, tapi apa boleh buat.


Jadilah para introvert memang mesti dengan lapang dada mengikuti aturan-aturan sosial itu, terlebih di kultur yang tukang ngumpul ini, yang segalanya gotong royong, bahu-membahu, dan atas nama solidaritas ini. Sedikit annoyingmemang, tapi mau apalagi, toh by default, manusia itu makhluk sosial. Maaf kalau sedikit naif dan simplistik, tapi lagi-lagi penyesuaian diri memang penting. Banyak orang menganggap remeh yang namanya personal space dan energi interaksi, padahal ini penting. Kalau memang bisa, beri sedikit aturan pada hidup pribadi, ini lebih baik daripada mesti tiap hari berpura-pura, pasang senyum palsu, bicara basa-basi, padahal dalam hati dan kepala, “capek banget nih.” Saya sering membuat kesepakatan dengan teman-teman mengenai ‘jadwal-tidak-mau-diganggu’ saya. Di waktu-waktu tersebut, saya tidak mau menerima telepon, email, atau bentuk komunikasi apapun. Saya rasa pembatasan saya itu masih cukup wajar (untuk konteks Indonesia, yang terlalu individual sedikit saja biasanya dibilang egois.) Tapi kalau sampai berlebihan, ekstrem menutup diri juga agak mengganggu sih, terlalu reclusive. Rasanya kok seperti berteman dengan Batman, misterius banget.

Tulisan ini bukan justifikasi perilaku saya (lagian juga apa yang mau dijustifikasi, jadi introvert kan bukan kriminal). Introvert-ekstrovert ini sebenarnya teori super jadul, tapi agak lucu hingga sekarang beberapa orang masih belum mengerti kontinuum sederhana ini (iya, bahkan mereka yang kuliah psikologi), entah memang tidak tahu, memilih untuk taken-for-granted, atau apalah yang jelas saya tergelitik, karena jarang yang membicarakan ini dalam konteks budaya Indonesia. Yang lebih mengagung-agungkan mereka yang ceplas-ceplos, serba terbuka dan banyak bicara, mereka ini lalu diasosiasikan dengan hal-hal positif: menyenangkan, ramah, ceria. Sedangkan kita yang lebih tenang diasosiasikan lebih ‘buruk': terlalu serius, cemberut, bahkan ya itu tadi, egois atau sombong. Kalau kami para introvert bisa mengerti aturan dan kultur yang serba ekstrovert ini, inginnya sih kami dimengerti balik.


Anggap saja tulisan ini menyuarakan suara para introvert lain yang mungkin enggan angkat bicara. Jangan khawatir, kami tidak selamanya diam: teman-teman introvert saya banyak yang luar biasa dalam public speaking dan performance kok, bahkan yang cerewet di keseharian pun ada. Dan kalaupun kami tidak bicara secara kasat mata di depan orang banyak: banyak introvert yang memilih mengkompensasi itu lewat cara lain. Menulis, komposisi lagu, melukis, atau menikmati hal individual lain-lain, yang jelas ujungnya kan bicara, dan itu tidak mesti lewat mulut.



*Introversi itu beragam bentuknya, bahkan masih jadi perdebatan sampai sekarang. Kalau diatas saya bicara soal personal space dan energi dalam berinteraksi, itu cuma salah dua model introversi yang paling dikenal. Banyak buku dan artikel berseliweran mengenai kontinuum ekstrovert-introvert. Walau saya sih belum menemukan yang menyangkutkan ini dengan konteks budaya kita.

Indonesia Tionghoa dan Identitas

Sampai hari ini, masih banyak pihak yang mempertanyakan loyalitas kelompok Indonesia Tionghoa pada negara ini. Pada banyak kesempatan, mereka disamakan dengan orang-orang Yahudi yang tersebar di berbagai negara. Diumpamakan sebagai tikus di lumbung padi yang akan menjadi orang pertama yang melarikan diri jika terjadi kebakaran di lumbung padi. Pada perumpaan yang sama pula, mereka dianggap sebagai orang yang hanya mengeruk keuntungan dan kekayaan dari negara yang mereka tinggali tanpa merasa perlu berkontribusi bagi pembangunan negara ini.

Entah anggapan ini benar atau tidak, namun banyak orang sampai hari ini masih salah kaprah. Etnis Tionghoa di Indonesia dianggap sebagai satu entitas yang homogen (Tan, 2008). Padahal etnis Tionghoa di Indonesia sangat heterogen dalam hal sosiokultural dan geografisnya, termasuk keberagaman dalam menghayati ke-Indonesiaan. Di satu kontinuum terdapat orang-orang keturunan Tionghoa yang sudah sangat melebur ke dalam budaya Indonesia. Mereka bahkan menjadi pakar dari kebudayaan Indonesia, seperti Melani Budianta, guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Prof. Tjan Tjoe Siem ahli Javanologi yang menikah dengan perempuan Jawa, Junus Jahja ekonom dari Rotterdam yang menikah dengan perempuan Sunda, Go Tik Swan yang ahli batik, Masagung pemilik Toko Buku Gunung Agung, (Alm). Prof. Hembing yang ahli obat-obatan herbal dan masih banyak lagi.

Sementara di kontinuum lain, ada orang-orang keturunan Tionghoa yang masih teguh memegang kulturnya. Mereka dulu mengenyam pendidikan Cina dan masih fasih menggunakan bahasa Mandarin. Saat ini banyak di antara mereka yang menjadi pengusaha besar, seperti Sudono Salim pemilik Salim Group dan Mochtar Riyadi. Generasi penerus mereka kebanyakan bersekolah di luar negeri untuk kemudian kembali ke nagara ini meneruskan bisnis keluarga mereka.

Menurut Mely G. Tan (2008) sebagian besar orang berada di tengah-tengah antara dua kontinum ini. Kondisi ini mungkin yang menyebabkan munculnya kebingungan pada generasi muda Tionghoa Indonesia. Mereka menyadari diri mereka tidak sama dengan kaum Cina daratan yang tinggal di negara Cina. Tapi mereka juga menyadari bahwa diri mereka sampai saat ini belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat Indonesia.

Kebingungan para generasi muda mungkin juga diperparah dengan ajaran di dalam keluarga yang menanamkan bahwa mereka (Tionghoa Indonesia) berbeda dari orang Indonesia lainnya, terutama pribumi (Komunikasi pribadi, 20 November 2011). Ajaran di dalam keluarga yang seperti ini tak terlepas dari pengalaman para orang tua menghadapi kehidupan yang diskriminasif akibat kebijakan pemerintah Orde Baru.  Walaupun kemudian sejak tahun 2002 Gusdur mencabut SK pelarangan perayaan kebudayaan Cina suasana hidup bermasyarakat jauh lebih demokratis dan terbuka. Tapi tetap saja friksi dan kesensitifan mengenai hal ini masih terasa. Mungkin ini adalah sisa peninggalan “kebudayaan” Orde Baru yang secara sublimatif terpatri di alam bawah sadar masyarakat. Pada kondisi authomatic response atau dalam kondisi tertekan, isu ini masih muncul kuat di masyarakat.

Maka, muncul generasi muda Tionghoa Indonesia  yang gamang  di mana mereka seharusnya meletakkan kaki untuk berpijak. Beranikah mereka berpijak apa adanya pada tanah Indonesia ini atau merasa perlu memiliki kapital sebanyak mungkin agar menjadi orang yang diperhitungkan di negara ini? Jawabannya tentu bergantung pada pemaknaan diri mereka masing-masing sesuai dengan pengalaman hidup dan internalisasi yang mereka lakukan.

Selain dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pemaknaan diri juga dipengaruhi oleh ingatan kolektif dan informasi yang tersedia mengenai sejarah kehadiran Tionghoa Indonesia. Sayangnya, penulisan sejarah mengenai kontribusi Tionghoa Indonesia seringkali diabaikan (“Call to”, 24 Januari 2011). Padahal mereka sudah ikut berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia sejak masa penjajahan Belanda.

Kapitan Sepanjang atau Khe Panjang (Oey Phan Ciang) memimpin pasukan koalisi antara penduduk Jawa dan Tionghoa menentang VOC. Perang ini dinamakan Perang Sepanjang. Kapiten Nie Hoe Kong merupakan salah satu orang yang mempelopori pemberontakan rakyat Tionghoa terhadap VOC di Batavia. Rumah tempat Sumpah Pemuda dilaksanakan pun milik orang Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Pada Kongres Sumpah Pemuda ini ada 700 orang hadir. Namun, hanya 85 yang berani tanda tangan, lima di antaranya adalah pemuda Tionghoa. Saat mempertahankan kemerdekaan ada satu nama yaitu Laksamana Muda John Lie yang belum lama diangkat sebagai pahlawan nasional 

Kontribusi Indonesia Tionghoa pun terus berlanjut pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan UUD’45 terdapat 4 orang Tionghoa yaitu Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terdapat 1 orang Tionghoa yaitu Drs.Yap Tjwan Bing. Liem Koen Hian yang meninggal dalam status sebagai warganegara asing, sesungguhnya ikut merancang UUD 1945. Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Supratman, pun pertama kali dipublikasikan oleh Koran Sin Po (Intisari Online, 21 Januari 2012).

Identitas Terbentuk Melalui Interaksi

Di masa reformasi ini,pertanyaan mengenai identitas menjadi relevan kembali. Bukan hanya bagi Indonesia Tionghoa saja tapi bagi seluruh putra dan putri Bangsa Indonesia. Pada generasi muda Indonesia yang hidup di zaman kebebasan informasi dan globalisasi, rasa ke-Indonesiaan bukanlah suatu hal yang dapat diperoleh secara otomatis. Diperlukan usaha terus menerus untuk merefleksikan dan memaknai apa arti menjadi Indonesia bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Diperlukan kesadaran bahwa identitas juga terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, dengan kelompok lain, dengan masyarakat kolektif dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun kehidupan. Maka jika tokoh Psikologi Erik Erikson mengatakan bahwa pencarian identitas hanya terjadi di masa remaja (Identity VS Identity Confusion), sesungguhnya pertanyaan mengenai identitas pada orang-orang Tionghoa di Indonesia terjadi setiap hari di seluruh rentang hidupnya.

Cara mereka mengisi hidup dan mengkontribusikan diri di dalam kehidupan Indonesia mungkin salah satu cara menjawab sekaligus mencari identitas ke-Indonesiaan mereka. Sekalipun mereka belum sampai pada kesadaran ini, mungkin hidup di Indonesia hanyalah sekedar fase hidup yang harus dilalui saja. Seperti orang yang meminum air agar tak mengalami kehausan, namun tak sempat memaknai rasa dan hakikat air itu sendiri.  

Teach Us, Love..

“Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.” [1]

Cinta.
Dulu saya pernah bilang kalau cinta itu ibarat kotoran kerbau yang diberi selai cokelat.
Saya juga pernah bilang kalau cinta bukan sekedar pengalaman pahit.
Tapi karena terlalu nikmat menjilati kotoran kerbau berselai cokelat, saya jadi lupa diri.

Iya. Saya lupa kalau yang saya cintai adalah manusia.
Manusia yang sama berdosanya dengan saya, manusia yang sering lupa diri juga kayak saya.
Saya bahkan lupa kalau dalam doa yang saya panjatkan setiap hari, saya harus mengampuni sesama saya seperti saya diampuni oleh mereka.
Saya lupa kalau mereka ada untuk mengisi hari-hari saya dengan pahit dan manis, supaya tidak terlalu bosan untuk dijalani.

Cinta.
Ketika kamu mencintai seseorang dan ia sedang memenuhi tugasnya untuk mengeksplorasi diri, tak jarang muncul rasa takut bahwa ia akan pergi darimu selamanya.
Rasa takut yang justru mengekangmu dan mengikatmu. Menjerumuskanmu lebih dalam.

“Heaven and hell are right here on earth. Hell is living your fears, heaven is living your dreams. Hell may live within us but so does heaven.”  [2]

Untuk apa merasakan neraka yang justru akan lebih dalam menjerumuskanmu?
Biarkan setiap manusia memenuhi tugasnya, dan jangan pernah biarkan dirimu terlelap.
Mencintai bukan tentang memiliki seseorang.
Mencintai adalah tentang berdampingan mencapai setiap mimpi.
Jangan saling menjatuhkan, justru saling membantu.
Berpelukan dan berjalan mengarungi badai.
Bergandengan dan tertawa ketika matahari tersenyum padamu.

“Let love be genuine; hate what is evil, hold fast to what is good; love one another with mutual affection; outdo one another in showing honour. Do not lag in zeal, be ardent in spirit, serve the Lord. Rejoice in hope, be patient in suffering, persevere in prayer. Contribute to the needs of the saints; extend hospitality to strangers. Bless those who persecute you; bless and do not curse them. Rejoice with those who rejoice, weep with those who weep. Live in harmony with one another; do not be haughty, but associate with the lowly; do not claim to be wiser than you are. Do not repay anyone evil for evil, but take thought for what is noble in the sight of all. If it is possible, so far as it depends on you, live peaceably with all.” [3]

Mari berdamai dengan cinta.
Mari berdamai dengan amarah.
Mari berdamai dengan diri sendiri.
Love lies within us.

Cinta bukan hanya eros. Cinta adalah untuk alam semesta.

[1] 1 Corinthians 13:4-7
[2] Awakening Heroes Within, Carol S. Pearson
[3] Romans 12:1-2, 9-18

Ohana

“Ohana means family. Family means nobody gets left behind….. or forgotten.”
Pernah dengar kalimat di atas? Kalimat tersebut diucapkan oleh Lilo dalam film Disney berjudul Lilo & Stitch. Sebuah kalimat yang mendefinisikan keluarga. Dalam bahasa Indonesia, Lilo mengatakan bahwa “Ohanaberarti keluarga, dan keluarga berarti tidak ada seorang pun yang ditinggalkan, atau terlupakan.”
Jika mendengar kata ‘keluarga’, bayangan apakah yang pertama kali muncul di pikiran kita? Bagi saya, kata tersebut memunculkan bayangan seorang ayah, seorang ibu, dan dua orang anak kecil yang bergandengan tangan. Lebih spesifik lagi, anak pertama berjenis kelamin laki-laki dan anak kedua berjenis kelamin perempuan. Bayangan keluarga yang sederhana, dan menurut saya, sempurna.
Pada kenyataan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seringkali keluarga tidak sesempurna bayangan yang ada di pikiran tersebut. Banyak kasus keluarga yang memiliki masalah. Atau mungkin keluarga kita pun tidak sempurna bayangan dan harapan?
Orang-orang yang disebut sebagai keluarga biasanya adalah orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Entah itu adalah orangtua, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, dan sebagainya. Namun menurut saya pribadi, keluarga juga termasuk orang-orang yang peduli dan sayang dengan saya.
Kerabat dengan hubungan darah belum tentu peduli kondisi saya. Bahkan dalam beberapa kasus yang saya jumpai, orang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, merupakan orang yang lebih peduli dengan keadaan saya. Darah lebih kental daripada air? Tidak juga, ternyata.
Oleh karena itu, menurut saya ohana tidak hanya dalam bentuk seorang ayah, ibu, kakak, atau adik. Tidak juga dalam bentuk seorang nenek, kakek, paman, bibi, om, tante, sepupu, keponakan, dan sebagainya. Bagi saya, ohana juga berupa sahabat dan teman-teman. Dimana tidak ada seorang pun yang ditinggalkan, atau terlupakan. Dimana tidak ada seorang pun yang meninggalkan, ataupun melupakan.