Komik Mafalda sebagai sarana pendidikan ilmu sosial kepada anak

(Ini adalah tugas UTS PPS gue semester lalu. Gue inget saat itu gue sedang sangat terinspirasi oleh arus wawasan baru yang mengalir ke kepala gue melalui kuliah kuliah sosial. Inilah tulisan yang gue hasilkan saat passion gue terhadap isu-isu sosial masih baru. Eh, bukan berarti sekarang udah usang juga sih. Hehehehe)

Pendidikan bagi seorang individu idealnya dapat mengasah sisi kognitif, afektif dan behavioral yang dapat memandu orang tersebut untuk mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari. Hal ini menjadi penting karena dalam kehidupan nyata individu akan dituntut untuk berhadapan dengan realita, dan merespon realita tersebut. Untuk merespon realita yang ada tidaklah cukup dengan hanya menggunakan rasio belaka tanpa melibatkan empati, karena hal tersebut akan menyebabkan seorang individu sulit untuk peduli akan akibat dari tindakan yang ia lakukan terhadap orang lain. Selain empati atau aspek afektif, seseorang juga memerlukan sebuah pemikiran kritis agar ia dapat merenungkan lebih lanjut dampak dari tindakan yang ia lakukan, serta dapat memandang multidimensionalitas dari sebuah masalah atau situasi yang terjadi.
Sebagai pembekalan bagi individu untuk menghadapi realita sosial yang ada, maka diadakanlah pendidikan ilmu-ilmu sosial dasar dalam setiap tingkat pendidikan di Indonesia, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dengan diberikannya pendidikan tersebut pada siswa-siswi, diharapkan mereka dapat menjadi seorang individu yang peka secara sosial dan mampu untuk berhadapan dengan realita sosial yang ada saat mereka harus berkecimpung dalam masyarakat suatu hari nanti.
Lalu muncullah pertanyaan, apakah pendidikan ilmu-ilmu sosial di Indonesia telah cukup mengasah aspek kognitif, afektif dan behavioral para anak didik? Hasil penelitian yang dilakukan oleh antropolog Niels Mulder (2003) mengenai isi dari buku-buku pelajaran ilmu sosial di Indonesia menunjukkan bahwa buku-buku tersebut dipenuhi oleh banyak fakta dan konsep namun tidak menunjukkan integrasi yang jelas antara satu konsep dengan konsep lain, satu fakta dengan fakta lain. Pada akhirnya, kemampuan kognitif siswa dalam membuat hubungan antara satu konsep dengan konsep lain menjadi tidak terasah. Kemampuan berpikir kritis yang menuntut siswa untuk melihat realita secara multidimensional pun tidak terasah karena mereka hanya menghapalkan sekumpulan fakta dan konsep tanpa memahami keterkaitan antara fakta dan konsep yang disodorkan, serta tidak mencoba untuk melihat kecocokan antara apa yang mereka pelajari dengan realita sosial yang ada. Para guru yang mengajarkan ilmu-ilmu sosial di sekolah pun tidak melakukan modifikasi terhadap bahan ajar, karena mereka terikat pada kurikulum yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Karena itu, para guru tidak berdaya untuk memperbaiki muatan ilmu sosial yang hendak disampaikan pada siswa mereka. Bahkan menurut Mulder, ada satu guru yang menangis saat ia wawancarai, karena guru tersebut merasa telah membohongi anak didiknya dengan mentransfer isi buku pelajaran sekolah ke otak mereka (Mulder, 2003).
Selain itu, penajaman aspek afektif dan behavioral pada siswa juga tidak ada dalam buku-buku teks yang isinya dianalisis oleh Mulder. Pada akhirnya para siswa hanya berbekal pengetahuan mengenai sejumlah fakta, dengan pemahaman kognitif yang tidak matang, serta ketidakmampuan untuk mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari ke dalam situasi nyata. Pada akhirnya saat anak-anak sekolah ini telah masuk ke dalam masyarakat, mereka tidak bisa melihat realita sosial, serta mempertimbangkan berbagai macam aspek sosial saat memutuskan untuk melakukan suatu hal. Karena itu tindakan mereka didasarkan pada kedangkalan berpikir karena hanya berbekal oleh pecahan-pecahan konsep dan fakta yang mereka pelajari di sekolah tanpa kematangan kognitif, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan untuk bertindak (Mulder, 2003). Tindakan yang didasarkan pada kedangkalan berpikir tersebut kemudian berdampak pada rusaknya lingkungan, merajalelanya korupsi (Mulder, 2003), serta ketidakmampuan untuk berkreasi (Latif, 2009). Dampak-dampak yang telah dikemukakan di atas tentu saja akan mendatangkan hal negatif bagi bangsa Indonesia.
Saat sekolah yang bertugas untuk mentransfer ilmu kepada siswa melalui buku-buku pelajaran dan ceramah para guru tidak dapat diandalkan dalam memberikan pendidikan ilmu sosial pada para siswa, peran keluarga dan orangtua sangat diperlukan dalam menumbuhkan kepekaan siswa terhadap realita sosial yang ada dan kemampuan untuk mengkritisinya. Para orangtua pun dapat memanfaatkan berbagai media dalam mengajarkan ilmu-ilmu sosial kepada anaknya. Mereka tidak perlu menggunakan buku-buku sosial-politik yang muatannya belum dapat diserap oleh kemampuan kognitif anak sekolah. Komik pun dapat digunakan sebagai stimulus bagi anak-anak mereka untuk belajar tentang realita sosial.
Komik dapat menjadi sarana belajar yang baik, karena selain mengandung dialog verbal, dalam komik juga terdapat gambar-gambar yang dapat memperkuat pesan yang hendak disampaikan. Sebuah komik yang penulis anggap baik sebagai sarana belajar ilmu sosial bagi anak Indonesia adalah Mafalda karangan Joaquin Salvador Lavado atau Quino. Mafalda adalah komik Argentina yang telah diterjemahkan sebanyak lima jilid ke dalam bahasa Indonesia. Komik tersebut ditulis pada tahun 1960-an oleh Quino, dan dalam komik tersebut terdapat banyak sekali kritik sosial terhadap kondisi negara Argentina umumnya dan dunia khususnya yang sedang carut-marut, yang disampaikan melalui sudut pandang lima orang anak kecil, terutama Mafalda, anak perempuan yang menjadi tokoh sentralnya. Komik tersebut dianggap sangat mencerminkan kondisi sosial-politik pada saat itu, sejalan dengan perkataan Yudi Latif (2009) bahwa sebuah karya sastra dapat menggambarkan situasi sosial-politik secara sangat akurat.
Komik ini dapat digunakan sebagai sarana pendidikan bagi anak Indonesia karena menurut hemat penulis, isu-isu yang diangkat dalam komik tersebut relevan dengan situasi Indonesia pada saat ini. Isu-isu seperti perang, terorisme, ketidaksetaraan peran gender, krisis ekonomi, serta sterilnya dunia pendidikan yang disampaikan dengan sangat sederhana namun mengena oleh Quino dalam strip-strip komik Mafalda dapat menjadi pelajaran bagi anak Indonesia. Dalam komik itu juga tersirat pesan bahwa seseorang perlu memiliki nasionalisme, etos kerja yang tinggi, memiliki kepedulian pada orang lain, serta memiliki semangat untuk melepaskan ikatan-ikatan peran gender yang selama ini ada dalam masyarakat. Dengan membaca komik ini dan mendiskusikannya dengan orangtua, diharapkan anak Indonesia dapat memahami seperti apa situasi sosial yang ada dalam komik, serta dapat menggunakan keterampilan mengidentifikasi isu sosial tersebut untuk membaca situasi yang ada di Indonesia. Namun tentu saja agar hal tersebut dapat terlaksana, para orangtua terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang situasi sosial di Indonesia, serta memiliki kemampuan untuk menangkap pesan-pesan yang seringkali ditampilkan dalam bentuk satir pada komik Mafalda.
Komik ini bisa menjadi agen sosialisasi bagi anak Indonesia untuk menumbuhkan karakteristik positif di dalam diri mereka. Menurut Richard T Schaefer (2008), sosialisasi adalah proses penyampaian pesan kepada seseorang mengenai bagaimana seharusnya ia bertindak dalam lingkungannya, yang pada akhirnya akan membentuk karakter dan identitas orang tersebut. Melalui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, komik Mafalda dapat menyadarkan anak-anak Indonesia sejak dini tentang sifat-sifat yang harus mereka miliki untuk dapat menciptakan perubahan sosial dari kondisi bangsa di mana orang-orang tidak dapat hidup sejahtera karena terjadinya krisis ekonomi, politik, dan sosial, serta kerusakan alam akibat tindakan orang-orang yang hanya memperdulikan keuntungan mereka sendiri, ke arah yang lebih baik dimana kesejahteraan dapat dinikmati secara merata oleh manusia Indonesia. Contoh dari karakter yang baik untuk ditiru adalah karakter Mafalda yang sangat peduli pada perdamaian dan kesejahteraan sesama. Sedangkan karakter yang kurang baik untuk ditiru adalah karakter Manolito yang sering menipu orang lain dan membiarkan orang lain merugi demi mendatangkan keuntungan bagi toko ayahnya.
Pengetahuan yang telah disosialisasikan kepada anak-anak melalui komik ini kemudian mewujud ke dalam bentuk praxis dengan proses belajar yang disebut oleh Bandura (dalam Wittig, 1976) sebagai modeling. Modeling adalah proses belajar dimana seorang anak meniru perilaku yang ia lihat dari orang lain. Yudi Latif (2009) telah mengatakan bahwa dalam sebuah karya sastra terkadang ada tokoh teladan yang dapat menggerakkan semangat dan tindakan manusia pada sebuah bangsa. Proses modeling ini dapat dimediasi oleh orangtua dengan cara mendiskusikan tindakan para tokoh yang ada dalam komik Mafalda, apa hal positif dan negatif yang menjadi konsekuensi dari tindakan para tokoh tersebut. Kemudian, menimbang konsekuensi yang terjadi, anak diberi kebebasan untuk memilih hendak melakukan tindakan yang mana. Anak dapat melakukan modeling terhadap tokoh komik Mafalda karena tokoh-tokoh dalam komik tersebut hidup dalam situasi yang mirip dengan yang dihadapi oleh anak-anak Indonesia. Kemiripan antara situasi tokoh yang dimodel dengan orang yang melakukan modeling dapat menjadi kunci berhasilnya proses belajar (Witting, 1976).
Pada akhirnya proses sosialisasi dan modeling yang dilakukan anak Indonesia dari komik Mafalda diharapkan dapat menumbuhkan kepekaan mereka terhadap realita sosial yang ada, mampu berpikir kritis mengenai konsekuensi positif dan negatif dari tindakan yang mereka lakukan, serta mengenali sifat-sifat apa saja yang perlu mereka miliki dalam rangka menciptakan perubahan atas situasi sosial yang ada di Indonesia. Selain itu, komik ini juga diharapkan menjadi stimulus yang dapat merangsang minat anak Indonesia untuk belajar lebih jauh mengenai realita sosial yang ada melalui berbagai macam media.
Pada akhirnya dengan belajar lebih jauh mengenai realita sosial yang ada, saat anak-anak ini telah dewasa dan turut berperan dalam proses pembangunan nantinya, diharapkan mereka sudah memiliki pengetahuan yang cukup terintegrasi mengenai situasi sosial yang ada pada masyarakat, dan dapat melihat keterkaitan berbagai macam aspek dalam masyarakat dan lingkungan. Sehingga diharapkan bahwa pada saat menjadi pelaku pembangunan nantinya, mereka dapat memikirkan dampak dari tindakan yang mereka lakukan secara multidimensional, dan juga didasari oleh kepedulian pada sesama, sehingga apa yang mereka kerjakan dapat berkontribusi pada meningkatnya kesejahteraan dan kualitas hidup manusia, bukannya malah menyebabkan kehancuran dan kerusakan.

Referensi
Latif, Y. (2009). Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan. Jakarta: Penerbit KOMPAS.

Mulder, N. (2003). Wacana Publik Indonesia: Kata Mereka tentang Diri Mereka. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Schaefer, R.T. (2008). Sociology: a Brief Introduction (7th ed.). Singapore: McGraw-Hill Higher Education.

Wittig, A.F. (1976). Schaum’s Outlines on Theories and Problems of Psychology of Learning. USA: McGraw-Hill.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s