Golongan Putih

“Ah, nanti paling presiden yang gue pilih korupsi lagi..”

“Gue gak tau mau pilih siapa.. Semuanya sama aja..”

“Mending gue golput biar gue gak kecewa kalo presiden gue kerjanya ternyata cuma janji gombal doang..””Indonesia mah dibom aja satu generasi, baru bangun lagi yang baru.. Percuma pemimpin dan parpolnya nggak ada yang bersih..” 

 

..dan segudang keluhan lainnya terkait pemilihan umum yang tak jarang kita dengar.

Bahkan hingga bulan Januari 2014, dimana berarti kita mengawali tahun politik sekaligus tahun pesta demokrasi lima tahunan, saya masih mendengar keluhan serupa di sekeliling saya.

Walaupun saya juga bersyukur, karena ada sejumlah rekan yang mulai mau ikut berpartisipasi dalam perayaan ini.

Perihal presiden, atau siapapun sosok yang melakoni tampuk tertinggi dalam sebuah organisasi (negara pun termasuk sebuah organisasi), kekecewaan pengikut adalah hal yang lumrah. Bayangkan saja, berbagai program dicanangkan dalam kampanye, namun yang dapat direalisasikan hanya sedikit ditambah dengan berbagai desas desus dan fakta buruk yang membuat kita semakin kecewa dengan sosok yang bersangkutan.

Bagaimana tidak? Rancangan program hanya dibuat oleh pimpinan, hanya segelintir pengikutnya yang sungguh mengerti apa yang diinginkan oleh pimpinan tersebut apalagi kalau beliau tidak dikaruniai kemampuan untuk menerjemahkan programnya ke dalam susunan langkah konkret yang dapat diikuti oleh pengikutnya. Pun beliau memiliki kemampuan tersebut, belum tentu pengikutnya dapat sungguh-sungguh memahami dan menghayati dalam menjalankan program. Bisa saja pengikut hanya berpikir “Biarlah saya jalankan, asal bapak senang, asal hidup saya masih terjamin..” Lah, kalau tiba-tiba hidup pengikutnya tidak terjamin? Ya tentu kritik lah yang muncul, pimpinan tidak becus menjalankan program lah, sistem yang hanya menginjak pengikut lah, dan berbagai kritik lainnya.

Organisasi, berasal dari kata “organ” ditambah imbuhan -isasi, yang secara harafiah berarti proses mengorgan. Untuk dapat berproses, tentu membutuhkan sebuah sistem dan pusat perintah. Ibarat kata organisasi adalah tubuh manusia, dimana di dalamnya terdapat sistem organ dan otak sebagai pusat perintahnya. Otak sebagai pusat perintah tugasnya mengkoordinasi seluruh gerak tubuh, dimana setiap organ bergerak sesuai dengan fungsinya. Jadi, organisasi yang baik adalah ketika seluruh organ (dalam hal ini, anggota) bergerak sesuai dengan fungsinya sepenuh kesadaran dan sepenuh jiwa. Menurut salah seorang tokoh, maka yang kita butuhkan adalah gerakan, bukan program. Gerakan muncul akibat adanya kesadaran dari masing-masing anggota untuk bergerak mencapai sebuah tujuan bersama, yang umumnya adalah untuk kesejahteraan bersama.

Salah seorang rekan saya yang kini menjalankan tugas sebagai ketua organisasi mahasiswa sedikit banyak memberikan inspirasi kepada saya bahwa tidak perlu memandang umur, apakah pemberi masukan lebih tua atau lebih muda, masukan akan tetap berarti bagi kemajuan masing-masing individu. Hal yang terpenting adalah tujuan yang mulia dan bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, maupun sekelompok orang sebagai sebuah organisasi dapat tercapai. Begitu pula yang perlu kita lakukan bersama siapapun presiden kita nantinya, kritik presiden kita apabila beliau gagal memimpin kita yang sudah mau bergerak bersama beliau. Bergerak berarti melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk NKRI lho ya, bukan hanya bergerak mulutnya saja!

Menjalankan fungsi sebagai anggota negara atau warga negara bukanlah hal yang sulit. Mulailah dengan mencari tahu siapa bakal calon presiden potensial dan lihatlah sejarah hidupnya. Mulai dari sejarah pendidikan, pengalaman dan reputasi ketika menjadi pimpinan, ranah yang menjadi unggulan beliau, kalau bisa telusuri hingga sejarah hitam yang dimiliki oleh masing-masing bakal calon presiden. Sungguh presiden pun manusia yang tak luput dari khilaf, tapi kita perlu yakin bahwa kita mau bergerak bersama calon presiden yang benar-benar kita kenal. Ingin Indonesia maju, bersih dari korupsi dan tidak memalukan? Mari kita bergerak bersama!

Sisihkanlah satu jam setiap hari untuk mencari informasi mengenai bakal calon presiden yang ada.Dunia internet telah mempermudah kita mencari informasi baik yang positif maupun yang negatif, sehingga kita benar-benar memperoleh pertimbangan yang matang mengenai pilihan kita. Jangan hanya ikut-ikutan dengan teman, orangtua, apalagi memilih untuk GOLONGAN PUTIH! Golput berarti kita merelakan suara kita untuk (kemungkinan) digunakan oleh mereka yang ingin berbuat curang dalam Pemilu.

Ingat! Asas Pemilu Indonesia adalah LUBER JURDIL (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia, Jujur dan Adil). Maka dari itu, mari kita laksanakan Pemilu yang LUBER JURDIL dengan berpartisipasi langsung memilih sendiri siapa yang akan menjadi pimpinan kita lima tahun ke depan, bagikan informasi yang kita miliki kepada masyarakat umum yang seluruhnya memiliki hak suara, bebas memilih siapapun tanpa tekanan dari pihak manapun, sedapat mungkin rahasiakan pilihan kita, dukung pemimpin yang jujur dan adil!

Sekedar berbagi informasi mengenai Pemilu, berikut ada beberapa portal yang dapat disambangi untuk mendukung kesiapan rekan-rekan untuk Pemilu tahun ini:

1. http://www.ayovote.com atau @ayovote ; yaitu gerakan anak muda peduli politik yang bertujuan untuk mengajak semua pihak melek politik

2. http://data.kpu.go.id/dps.php ; portal tempat kita bisa memastikan bahwa kita sudah terdaftar sebagai calon pemilih di tempat pemungutan suara (TPS) masing-masing wilayah, beserta nomor urut pemilih

3. http://www.kpu.go.id ; portal resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), disini kita bisa cek daftar partai politik yang menjadi peserta Pemilu 2014

4. http://www.pemilu.com ; portal mengenai hal-hal seputar Pemilu 2014, termasuk partai politik peserta Pemilu

Mohon maaf kalau ada ucapan yang tidak berkenan. Hanya ingin berbagi pemikiran mengenai Pemilu. Semoga membantu supaya rekan-rekan tidak ada yang golput! :) Karena hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu. :D

PS: Kelas menengah bangsa Indonesia adalah populasi terbanyak saat ini, hampir semua punya social media, tapi juga merupakan populasi yang cenderung tidak peduli terhadap urusan politik. Mari kita sebarkan semangat ini agar kita mulai peduli terhadap bangsa kita sendiri.

Sebotol Air Minum di Bandara

Saat menungu pesawat yang tertunda (delay) di bandara Don Mueang, Bangkok hari sudah larut malam. Jarum jam menunjuk pukul Sembilan malam. Pukul setengah sepuluh lapak penjualan makanan dan minuman sudah mulai ditutup.

Kami masih harus menunggu sekitar satu sampai dua jam lagi. Oleh karena itu, ayah saya meminta saya untuk membeli dua botol air minum. Dua botol untuk kami berlima. Paling tidak agar kami punya air untuk membasahi kerongkongan jika merasa haus.

“Ayo beli sekarang ya Nas. Sebentar lagi toko-toko pada tutup”, demikian Ayah berpesan sambil memberikan uang pada saya.

Saya pun bergegas ke toko penjual minum.

Satu botol minum dijual seharga dua puluh ribu dalam kurs rupiah. Jadi beli dua botol sama dengan empat puluh ribu rupiah.

Beberapa kali membeli minum di bandara, baru kali ini saya memaknainya.

“Eh, iya ya kalau di bandara Jakarta beli air minum yang harga ecerannya tiga ribu rupiah bisa jadi dua puluh ribuan kalau di bandara.”

Saya jadi berpikir, sebenarnya siapa yang berhak menentukan harga? Apalagi harga untuk kebutuhan dasar manusia yang vital. Seperti air, contohnya.

Malam semakin larut dan rasa kantuk mulai terasa. Suhu udara di ruang tunggu bandara terasa semakin dingin. Kami tidur bergantian. Menyelonjorkan kaki dengan merebahkan kepala pada paha yang lain. Lalu tidur sejenak berselimutkan jaket atau pashmina. Di ruang tunggu bandara, hanya tersisa para penumpang yang menunggu pesawat datang. Selebihnya kosong. Toko-toko sudah pada tutup.

Di tangan hanya tinggal dua botol air yang tadi dibeli.

“Ah, begini mungkin ya rasanya terjebak di suatu tempat , terasing atau diasingkan”, demikian pikir saya.

Maklum, saya anaknya suka lebay kalau berimajinasi. Selain itu, juga sering mengaitkan pengalaman sehari-hari dengan peristiwa heroik yang ada di film-film. Biar seru aja, tapi seru sendiri. Mungkin buat orang lain terlihatnya aneh. ^-^

Kemudian saya membayangkan, bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang tinggal di daerah yang terisolasi. Entah di pengungsian atau di daerah terpencil, maupun di suatu lokasi yang sengaja diputus akses dengan dunia luar. Seperti pengungsian di jalur Gaza atau Syria. Bisa juga seperti daerah-daerah pelosok dan terpencil di Indonesia.

Tinggal di daerah yang terisolasi bersama puluhan, ratusan, ribuan bisa jadi ratusan ribuan orang lainnya. Pengungsian di jalur Gaza konon katanya merupakan area pengungsian terbesar di dunia karena dihuni sekitar satu juta pengungsi.

Tinggal di daerah terisolasi berarti sumber daya (resources) untuk memenuhi kebutuhan begitu terbatas. Masih untung kalau dijatahi, sedikit dan terbatas tapi masih mendapat. Bagaimana kalau minim sumber daya sehingga kebutuhan dasar saja tidak dapat dipenuhi?

Daerah terisolasi bisa terjadi karena kondisi perang, politik, geografis tapi bisa juga karena kondisi ekonomi. Misalnya daerah yang menjadi terisolasi karena faktor ekonomi seperti di Cilincing atau Pulo Gadung. Walaupun kedua tempat ini terletak di ibukota Jakarta yang katanya metropolitan tapi akses terhadap air sangatlah terbatas.

Bagi kita yang bisa membeli pompa air dan menikmati air PAM, mungkin tidak terbayang seperti apa rasanya hidup dengan pemakaian air yang dijatah.

Di kawasan pemukiman para buruh di Pulo Gadung, seringkali mereka tidak punya kakus pribadi. Mereka mandi dan buang hajat di WC umum. Selain dikenakan biaya setiap pemakaian WC, mereka juga dijatah pemakaian air. Waktu SMP saya berkunjung ke sana, satu orang hanya boleh memakai dua gayung air. Dua gayung untuk mandi, keramas dan lain-lain. Pokoknya hanya dua gayung.

Bagi teman-teman yang pernah KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah pelosok, mungkin juga pernah mengalami hidup dengan air bersih yang amat terbatas.

Di pemukiman kumuh dan padat di Jakarta juga beredar penjual air bersih keliling. Mereka membawa air dengan beberapa jirigen yang ditumpuk, lalu didorong menggunakan gerobak. Si penjual keluar masuk kampung menjual air bersih.  Air bersih dijual secara eceran dengan harga yang ditentukan si penjual.  Si pembeli sebagai pihak yang membutuhkan air pasrah saja pada harga yang ditentukan oleh si penjual air. Tak bisa menolak. Pilihannya membayar mahal menurut ukuran kemampuannya atau tidak menggunakan air bersih sama sekali.

Para tunawisma di Jakarta, misalnya yang tinggal di sekitar Pasar Rumput, Manggarai biasa menadah air hujan jika tidak punya uang untuk membeli air eceran. Menadah air hujan dengan kaleng bekas lalu merebusnya.

Bagi kita yang belajar tentang hujan asam di pelajaran sains sekolah, tentu menyadari kalau kota yang polusi seperti Jakarta ini air hujannya sudah terkontaminasi logam-logam dan zat berbahaya. Lalu bagaimana kalau air hujan yang terkontaminasi itu dikonsumsi sebagai air minum?

Buat saya, melihat berbagai standar hidup orang yang berbeda-beda dari berbagai kelompok dan lapisan masyarakat pada kurun waktu kehidupan yang sama seringkali membuat saya terhenyak.

Speechless.

Lagi-lagi membuat saya bertanya.

Apa yang membedakan saya dengan mereka?

Sama-sama manusia, padahal. Lahir sama-sama telanjang tapi kemudian menjalani hidup yang berbeda-beda.

Padahal manusia juga tidak bisa memilih mau lahir dari orang tua dan keluarga seperti apa, dengan kondisi sosial, ekonomi, suku dan agama yang tertentu atau sudah given.

Suatu kali saat sedang duduk berbincang dengan B di suatu kafe, ia bercerita tentang kepala tukang bangunan di rumahnya. Sebut saja tukang tersebut bernama Rahman. Rahman ini bekerja borongan untuk merenovasi rumah. Bekerja dari jam tujuh pagi sampai dua belas malam. Bekerja keras dengan kemampuan fisiknya.

Sejauh pengamatan B, Rahman bekerja dengan rajin, giat dan ulet. Sehari ia mendapatkan bayaran tujuh puluh lima sampai seratus ribu. Nominal yang sama bisa habis dengan sekejap jika kita nongkrong memesan kopi di kafe franchise.

Lalu B bertanya pada saya, “Apa yang membedakan Rahman dengan kita? Kita bekerja nggak lebih keras dari dia. Bahkan mungkin Rahman kerjanya lebih keras dan berat dari kita. Kalau menurut gue pribadi sih, kerjaan apapun selama bukan kerjaan fisik tuh ga berat.”

“Apa yang membedakan Rahman dari kita? Sama-sama manusia. Tapi mungkin nggak sih dalam hidupnya Rahman akan pernah punya kesempatan duduk-duduk nongkrong di kafe memesan minuman seharga empat puluh ribu kayak kita gini? Atau bisa beli sepatu kulit kayak yang gue pake ini? Kayaknya sih nggak.”

Pertanyaan seperti ini membuat saya terhenyak. Mata saya berkaca-kaca.  Ada perasaan trenyuh, bersalah menikmati hidup yang lebih ‘enak’ dari mereka yang bekerja amat keras setiap harinya. Tapi suratan takdir bukan ada pada saya juga.

Kondisi seperti ini mengingatkan saya pada video dokumenter yang saya tonton. Tentang para buruh di pabrik sepatu bermerk yang dulu gaji mereka per kepala, lebih kecil dari harga satuan sepatu yang mereka buat. Tentang mereka yang bekerja dengan berdiri selama belasan jam di bawah penerangan lampu yang panas. Ruang kerja yang suhunya sekitar empat puluh derajat karena langit-langit yang pendek sehingga jarak lampu yang dekat.

Pada mereka yang bekerja belasan jam setiap harinya, tapi tidak dapat menikmati tempat berteduh dan sanitasi yang layak untuk menunjang hidup. Apalagi  akses pendidikan, informasi dan pengembangan diri. Mungkin barang asing untuk mereka.

Pada tukang sapu outsorcing di apartemen kelas menengah dengan gaji empat ratus ribu sebulan. Mungkin sekali beli sepatu, kita bisa menghabiskan empat ratus ribu bahkan lebih. Gaji sedemikian kecil di Jakarta membuat mereka terpaksa bertahan hidup dengan makan hanya satu kali sehari. Itupun makannya hanya dengan mie instan.

Dari aspek ekonomi, mungkin kita bisa menyebut mereka ini “orang-orang miskin”. Di kalangan menengah dan menengah atas, kerap beredar anggapan “orang miskin itu malas”. Tapi “orang miskin” pun beragam. Tidak semuanya malas, tidak semuanya rajin. Pada contoh-contoh konkrit di mana dengan mata kepala sendiri melihat mereka bekerja sangat keras, tapi tidak bisa menikmati hidup yang layak pertanyaan tentang “keadilan” menyeruak.

Apakah hidup memang didesain untuk timpang seperti ini?

Kalau iya, siapa yang mendesainnya? Siapa yang menentukannya?

“Di sekitar kita, ada orang-orang yang bekerja sangat keras tapi lingkaran kehidupan mereka di situ-situ aja. Bukan karena mereka malas, tapi seringkali mereka tidak punya akses dan sarana untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.”, demikian suatu hari mama berpendapat.

“Karena itu, kamu harus bantu menyekolahkan anaknya mas supir (supir di keluarga saya telah bekerja selama dua puluh tahun), supaya dia punya akses untuk kehidupan yang lebih baik. Supaya nggak jadi supir lagi.”, lanjut mama.

Ya, seandainya satu bisa “diselamatkan” akan ada lagi bermunculan orang-orang di kelas ekonomi dan sosial tersebut. Bekerja keras sepanjang hari, seumur hidup tapi taraf hidupnya di situ-situ saja.

Persoalan ketimpangan sosial dan ekonomi antar manusia ini memang terlalu rumit dan sulit untuk dipahami.  Enaknya ya kalau jadi orang, kelompok atau pihak yang berhak menentukan harga. Bagaimana cara menentukan harga? Dengan menguasai sumber daya alam. Walaupun secara de jure di Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Pasal 33:

1.Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.

3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Sembilan puluh persen sumber daya alam di dunia hanya dikuasai lima belas persen orang.

Kalau kita bisa memiliki akses terhadap air bersih, punya kakus sendiri, punya minimal satu kulkas dan punya akses terhadap listrik, kita sudah lebih beruntung dari tujuh puluh lima persen penduduk dunia.

Kalau kita masih bisa mengikuti ‘permainan’ harga-harga di dunia; mampu membeli sebotol air minum di bandara dengan harga puluhan ribu, segelas kopi franchise dengan harga puluhan ribu, sehelai pakaian buatan pabrik yang dibuat buruh dengan harga ratusan ribu. Kita ‘beruntung’.

Lalu bagaimana dengan tujuh puluh lima persen lainnya?

Mungkin benar, bahtera Nuh tidak digunakan untuk ‘menyelamatkan’ semua orang.

Kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri (Matius 22:39)| Thou shalt love thy neighbour as thyself (Matthew 22: 39)

Dan siapakah “sesamamu manusia” itu?

Sebelum Pagi Hari

Sebuah puisi oleh Trias Dian Lestari

Bertemu dalam ruangan hitam

Akhirnya rinduku sampai

Kau berjalan mendekat, senyummu menjadi jelas

Terlihat guratan senyum di ujung bibirmu

 

Udara di sekitar hangat membius

Tanpa ada suara di dalamnya, sunyi

Kita hanya tersenyum berhadapan

 

Tanganmu menggenggamku, halus membelai rambutku

Kemudian aku memelukmu perlahan

Mendekap kedua bahumu sepenuhnya

Membayar jutaan detik yang kulewati

Hanya untuk mendambakan berada disini

 

Kita tetap saling memeluk erat

Dalam kurun waktu jutaan detik juga, pikirku

 

Lalu kau melepas pelukanku perlahan

Sembari aku juga melemaskan tangan

Beberapa tetes air mata mengalir melewati rahangku

 

Kau terdiam, tetap tersenyum

Lalu kau mengangguk pelan, aku menyusul kemudian

Kita berdiri pada jarak dimana aku tetap bisa melihat wajahmu

 

Perlahan, ruangan hitam berubah

Warnanya memudar temaram hingga menjadi putih terang

 

….saat itulah kedua mataku terbuka

A Separation: Potret Realistik Drama Kehidupan

A Separation: Potret Realistik Drama Kehidupan
sebuah resensi karya Timotius Prassanto

Sekian lama saya menantikan momen untuk menonton film A Separation, sebuah film asal Iran karya sutradara dan penulis Asghar Farhadi. Tidak lain dan tidak bukan, ketertarikan saya terhadap film ini meledak ketika melihat kesuksesan film ini sebagai film asal Iran pertama yang mampu menembus nominasi dan memenanginya di ajang Academy Awards, Golden Globe, bahkan menjadi film pertama yang mendapatkan tiga penghargaan sekaligus pada ajang Berlin International Film Festival. Film ini banyak menuai kritikan positif dari pada kritikus film, ramai pula dibicarakan oleh para pecinta film-film arthouse dan movie blogger. Keajaiban datang ketika 21 Cineplex memutuskan untuk mendistribusikan film ini di beberapa bioskop di ibukota. Sebuah kejutan yang tidak terkira bagi penonton reguler 21 Cineplex melihat ada film kelas arthouse bertengger di deretan pilihan film bioskop.

Film dibuka dengan adegan pasangan suami istri Nader dan Simin yang sedang mengajukan gugatan cerai di pengadilan. Dengan penonton yang mengambil sudut pandang hakim, kesaksian dari Nader dan Simin seakan sebuah prolog cantik nan elegan akan kisah yang hendak diceritakan oleh Asghar Farhadi dalam film ini. Ayah dari Nader mengidap Alzheimer dan tidak mengenali lagi putranya, sementara Simin yang mendapatkan kesempatan untuk keluar dari negeri Iran memaksa Nader dan anaknya untuk pergi dari rumah demi kehidupan yang lebih baik. Nader pun dengan tegas menolak rencana itu demi merawat ayahnya yang sakit. Pertentangan tersebut yang kemudian membawa Nader dan Simin menghadapi serentetan kejadian yang menambah rumit situasi.

Film ini menjustifikasi kecintaan saya terhadap film-film Iran yang sukses di dunia internasional. Walaupun track record tontonan film-film Iran saya hanya bisa dihitung dengan jari, namun saya menemukan suatu hal yang khas dari sinema Iran; ide dasar sederhana dan memotret interaksi antar-manusia yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lihat saja kisah Nader dan Simin ini, mungkin kisah pertengkaran suami-istri yang berujung pada perceraian telah kita saksikan ratusan kali di layar kaca maupun layar lebar, maupun sangat familiar kita temui di dunia nyata. Namun dengan naskah nyaris sempurna dari Asghar Farhadi, dengan berbagai konflik dan kejutan di sepanjang film – ditambah dengan twist yang efektif di penghujung film, membuat film ini seakan tontonan menegangkan dan sangat powerful.

gambar diambil dari sini

Kekuatan akting yang nyata menjadi senjata utama dalam film ini. Ensemble cast dalam film ini luar biasa, setiap pemerannya mampu tampil sangat natural dan tidak ada yang menonjol antara satu karakter dengan yang lain. Saking kuatnya akting dari setiap pemerannya, kharisma dari setiap karakter bisa sampai merembes keluar dari layar. Nader dan Simin yang sama-sama good looking dan memiliki kepribadian yang kuat dan tegas, seakan membawa atmosfer film ini sesuai dengan mood dan perasaan karakter mereka masing-masing. Akting yang sangat natural dan meyakinkan inilah yang membuat penonton jauh lebih mudah untuk masuk ke dalam cerita dan ikut meresapi, menginvestigasi, dan memberikan penilaian tersendiri terhadap apa yang sedang terjadi di layar.

Prolog film yang menempatkan penonton di sudut pandang sebagai hakim, adalah sebuah simbol cerdas bagaimana Asghar Farhadi yang memang ingin agar masing-masing penonton menentukan penilaiannya sendiri terhadap apa yang terjadi terhadap Nader dan Simin. Penonton yang akan menjadi hakim, yang berusaha keras menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Belum lagi bagaimana naskah yang disusun secara cerdas ini sukses membuat penonton tergoda untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas rentetan kejadian malang yang menimpa Nader, Simin, dan orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya itu, Asghar Farhadi juga sangat sabar dalam membuka tirai fakta, lapis demi lapis, demi para penonton dapat menikmati dinamika dari interaksi para karakter akibat aksi-reaksi yang terjadi sepanjang jalan cerita. Kejutan-kejutan plot yang ada nyaris di setiap kuartal dalam film ini mampu membuat saya terpekik dalam diam. Good job, Mr. Asghar!

gambar diambil dari sini

Namun sialnya, Asghar Farhadi tidak menghendaki penontonnya untuk mengetuk palu siapa yang benar dan siapa yang salah. Memang dunia tidak semudah hitam dan putih. Sepanjang film, penonton disuguhkan dengan betapa keras usaha para karakter untuk menentukan siapa yang bersalah dan siapa yang bertanggung jawab dari kacamata hukum yang berlaku di Iran. Namun ada hal-hal yang terkadang lewat dan tidak bisa dinilai dari sisi hukum yang tegas dan kaku. Film ini pun mencoba memasukkan unsur agama sebagai sumber penilaian, namun “hukum” agama itu pun sekali lagi kurang mampu menafsirkan perbuatan mana yang pantas dan tidak pantas. Asghar Farhadi seakan ingin menunjukkan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dengan mudah dinilai dengan aturan tertulis yang berlaku di masyarakat. Bahwa terkadang ada hal-hal yang dapat dikembalikan lagi kepada sisi moralitas yang dimiliki oleh manusia.

Sepanjang film, penonton disuguhkan oleh hal-hal dualisme yang disajikan di layar. Bagaimana Nader dan Simin yang memiliki keinginan yang saling bertentangan. Bagaimana Nader yang berselisih dengan Razieh si pengasuh ayahnya, hingga bagaimana Nader-Simin berselisih dengan Razieh-Hodjat. Tidak hanya secara fisik namun juga secara tingkah laku; apakah Nader/Simin/Razieh berbohong atau tidak, atau lebih jauh lagi – apakah berbohong itu murni sebuah kesalahan? Betapa penonton seakan diarahkan untuk memilih salah satu diantaranya lalu menjalani hidup dengan satu pilihan tersebut. Ditambah dengan bagaimana kebiasaan masyarakat modern yang ada di saat ini untuk memilih salah satu dari hal dualisme tersebut, yang terlegitimasi pula oleh aturan hukum dan agama yang berlaku. Kesan ini pun memuncak di ending film yang terbilang cukup adil dan menyerahkan kembali interpretasi film ini kepada penonton sebagai “hakim”.
Ajakan untuk berpihak ini akan terasa jika anda menonton bersama teman-teman, dan tanyakan kepada mereka siapa yang bertanggung jawab sehingga semua kejadian beruntun ini terjadi. Mungkin ada sebagian penonton yang berpihak kepada Nader, ada pula sebagian penonton yang berpihak kepada Simin, dan mungkin ada sebagian kecil yang lebih empatik terhadap Termeh sang anak gadis berusia 11 tahun. Keberpihakan otomatis ini memang secara signifikan dipengaruhi oleh pola pikir, persepsi, dan pengalaman dari masing-masing penonton. Dari keberpihakan tersebut pun akan terlihat mana kelompok orang yang lebih mengutamakan keluarga, atau masa depan anak-anak, atau kepentingan orang lain.

gambar diambil dari sini

Namun tidak ada yang salah dengan keberpihakan tersebut. Pun tidak ada yang salah dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku dari para karakter yang saling terhubung satu dengan yang lain dalam film ini. Karena jika direnungi lebih dalam lagi, film ini bukan ingin bercerita tentang hitam-putih benar-salah baik-buruk, namun lebih ke sebab-akibat. Setiap tindakan, sekecil apapun, adalah sebuah intervensi sosial yang pasti akan membawa dampak terhadap orang lain di sekitar kita. Terlepas apakah dampat tersebut berupa positif atau negatif, namun film ini memotret bagaimana jika ada individu yang memilik berbagai pilihan tindakan namun memilih untuk melakukan satu tindakan spesifik tersebut dan menimbulkan efek tertentu kepada orang lain di sekitarnya. Reaksi berantai pun akan terjadi, permasalahan semakin rumit, dan akar permasalahan pun menjadi semakin kabur. Ketika emosi telah mencapai batasnya, insting manusia yang membawa setiap individu yang sudah jatuh terpuruk untuk saling menyalahkan mereka yang dirasa bertanggung jawab memulai semua hal ini.

Pada akhirnya, saya merasa sangat beruntung dapat menyaksikan film ini di layar lebar, dan dengan mudah untuk larut secara empati dan emosi terhadap setiap hal kecil yang terjadi di layar. Saya merasa sangat terlibat terhadap permasalahan yang terjadi pada Nader dan Simin, dan berusaha keras untuk membantu mereka berdua dengan menjadi “hakim” untuk menentukan dengan siapa Termeh layak untuk tinggal. Namun niat baik tidaklah cukup, dan permasalahan mereka berdua benar-benar sulit untuk ditimbang adil di mata hukum. Maka saya hanya bisa merenung, untuk kemudian menonton film ini kedua kalinya, kemudian merenung kembali, dan seterusnya.

Iran | 2011 | Drama | 123 mins | Aspect Ratio 1.85 : 1

  • Won for Best Foreign Language of the Year, Nominated for Best Writing Original Screenplay (Asghar Farhadi), Academy Awards, 2011.
  • Won for Best Foreign Language Film, Golden Globes, 2011.
  • Nominated for Best Film Not in the English Language, BAFTA Awards, 2011.
  • Won for Golden Berlin Bear (Asghar Farhadi), Prize of the Ecumenical Jury (Asghar Farhadi), Reader Jury of the “Berliner Morgenpost” (Asghar Farhadi), Silver Berlin Bear Best Actor (Babak Karimi, Ali-Asghar Shahbazi, Shahab Hosseini, Peyman Moadi), Silver Berlin Bear Best Actress (Leila Hatami, Sareh Bayat), Berlin International Film Festival, 2011.

Tulisan ini diterbitkan ulang dari: